Showing posts with label media. Show all posts
Showing posts with label media. Show all posts

13.8.11

Peluncuran Buku: Sebuah Ruang Jeda Inggit

BANDAR LAMPUNG--Tidaklah mudah menafsir sajak-sajak Inggit Putria Marga yang terhimpun dalam Penyeret Babi (Anahata, Bandar Lampung, 2010). Puisi Penyeret Babi yang kemudian menjadi judul kumpulan sajak perdana Inggit pun menjadi sebuah ambiguitas tersendiri.





PELUNCURAN BUKU. Penyair Inggit Putria Marga (tengah) menanggapi peserta dalam peluncuran buku puisinya, Penyeret Babi,
di Unila, Sabtu (27-3).




 

Menurut penyair Ahmad Yulden Erwin, yang menjadi pembahas bersama Iswadi Pratama dalam peluncuran buku ini di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Sabtu (27-3) malam, judul yang sebenarnya biasa saja. "Nggak aneh, tetapi menarik," kata Erwin.

Bagi Inggit sendiri, sajak Penyeret Babi menjadi pintu masuk untuk menemukan benang merah dari 72 sajak dalam kumpulan yang terbagi ke dalam dua bagian ini: Mantra Petani dan Pemuja Api. Selain itu, "Saya berharap dengan judul ini, buku ini bisa berada di ruang jeda," kata Inggit dalam acara yang diselenggarakan Komunitas Berkat Yakin (Kober) dan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila ini.

Dalam pembacaan Iswadi Pratama sajak-sajak Inggit dapat dilihat dalam tiga hal: cenderung metafisik, sosok penyair sebagai hermes (penafsir), dan mengisyaratkan laku "meditatif" atau laku wu wei.

Kalau dalam kebanyakan sajak liris, posisi "aku liris" dalam teks hampir selalu dikenali dengan serta merta, menurut Iswadi, justru Inggit melakukan elaborasi. "Aku lirik" tak selalu diaktualkan secara jelas apalagi dominan dalam sajak-sajak Inggit.

Sedangkan Ahmad Yulden Erwin memandang sajak-sajak Inggit seperti arkitipe, semacam gurauan-gurauan. "Aku yang dimaksudkan Inggit bukan pribadi. Aku dalam sajak Inggit adalah segalanya. Harus hati-hati membaca sajak Inggit, siapa sesungguhnya penafsir dalam sebuah sajak yang tengah kita baca," ujarnya.

Menurut Erwin, dalam sajaknya, Inggit ingin menafsirkan, tetapi juga ingin berkomunikasi. "Dari keseluruhan komunikasi itu menciptakan irama dari gerak tubuh. Tarian itu akan menarik yang lain, menjadi pusaran, menjadi pasangan, dan kemudian menjelma cinta."

Satu yang menarik dari penyair perempuan terkuat yang dimiliki Lampung dan termasuk 100 Tokoh Terkemuka Lampung versi Lampung Post ini, adalah bagaimana Inggit tampil dengan gaya ucap yang berbeda dari perempuan penyair kebanyakan. "Ini kekuatan Inggit yang tidak dipunyai penyair perempuan lain. Diksi, bunyi, citra, dan lain-lain berpadu harmonis dalam sajak-sajak Inggit," kata Erwin lagi. (ZULKARNAIN ZUBAIRI/R-3)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Maret 2010

Penyeret Babi, Hening yang Bertindak

Penyair : seandainya kamu penyair, apa yang kamu tulis?  
Temannya : ketidakindahan, sesuatu yang ada pada diriku sukar ditemukan
(“Penyair dan Temannya”, halaman 41).
 

 Hening yang bertindak. Demikian kira-kira kesan ketika saya diminta melukiskan puisi-puisi Inggit Putria Marga yang terhimpun dalam buku antologi puisi Penyeret Babi. Puisi-puisinya mengajak kita merenungkan esensi diri dan semesta. Sebuah pencarian tentang diri, hidup, pergantian musim, dan spiritualitas. Dia adalah penyair wanita paling menyita perhatian dalam konteks perkembangan sastra (puisi) di Lampung. Antologi ini adalah manifestasi ide dan keluasan wawasan Inggit. Bagaimana Inggit di mana para pelaku sastra yang lain “Dia menjadi Inggit ketika menulis tentang tumbuhan, air, hujan, batu, telur, ayam, laut, lumut, daun, ricik air,–dengan sajak-sajak pendek yang kuat.” Demikian ujar Oyos Suroso HN ketika diminta membahas puisi-puisi Inggit pada Bilik Jumpa Sastra (Bijusa) Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni(UKMBS) Universitas Lampung, 24 November 200. Dia menjadi Inggit. Berarti ada periode ia tidak atau belum menjadi Inggit dalam pandangan Oyos Suroso HN yang sehari-hari juga menulis puisi, esei, mengamati teater dan wartawan The Jakarta Post. Menarik membincangkan apakah ia benar-benar Inggit atau bukan Inggit pada kumpulan puisi pertamanya ini. Bagi saya semua adalah Inggit. Saya melihat ia melakukan serangkaian ujicoba (eksplorasi), baik gaya bersajak maupun tema—antara bentuk dan isi. Saya menyelami keluasan dan kedalaman Inggit dalam memaknai hidup. Setelah membaca, menyisir halaman demi halaman, melihat antara satu puisi dengan puisi lainnya.

Saya beranggapan bahwa mungkin benar pendapat Oyos Suroiso HN, tetapi juga mungkin tidak sepenuhnya benar. Saya lebih suka mengatakan barangkali, mungkin, Inggit tidak peduli apakah dia akan melahirkan puisi-puisi panjang atau pendek. Saya percaya ia hanya peduli bagaimana menulis puisi dengan baik, baik logika, tata bahasa, sudut pandang, maupun cara ia melontarkan kata demi kata. Kadang panjang dan kadang pendek. Seperti yang bisa Anda dapatkan di buku ini. Judul dan cover buku ini cukup provokatif, merupakan puisi-puisi pilihan Inggit dari tahun 2001–2009, berisi 72 judul puisi. 

Inggit membagi dua bagian utama, atau dua bab, atau dua kategori, atau ia hanya ingin membaginya dua bagian saja. Bagian pertama ia beri judul “Mantra Petani” yang berisi 30 puisi. Kemudian bagian ke dua berjudul “Pemuja Api” yang berisi 42 puisi. Pada bagian pertama didominasi oleh puisi-puisi pendek. Pada bagian ke dua didominasi puisi-puisi panjang, beberapa judul sebentuk puisi prosa. Ini adalah buku pertama setelah Inggit mampu membuktikan diri sebagai penyair yang berkualitas. Sebagian besar karya-karya yang ada di buku ini sudah dipublikasikan di berbagai media nasional seperti koran Tempo, Kompas, Republika, Media Indonesia, Lampung Post dan masih banyak lagi lainnya. Berbagai iven bertaraf nasional dan internasionl beberapa kali mencatatkan namanya sebagai salah satu peserta, puisinya juga langganan dipilih sebagi slah satu puisi terbaik versi Anugerah Sastra Pena Kencana (2008, 2009). Baru-baru ini ia menjadi salah satu peserta Ubud Writer Festival 2009, setelah sebelumnya menjadi salah satu peserta International Literary Bianalle 2005 dan 2009. Setiap penikmat sastra di Indonesia saya rasa sangat baik jika menjadikan buku ini sebagai salah satu koleksi pribadi. Puisi-puisi pilihan Inggit enak sebagai bacaan, bahan renungan atau menjadi tema diskusi untuk melihat perkembangan sastra yang berkembang di ranah Lampung. Selain beberapa nama lain semacam Isbedy Setiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Oyos Suroso HN dan masih banyak lagi nama-nama penyair dari Lampung lainnya yang tak sempat saya sebutkan satu persatu. Pada antologi ini Anda juga akan menemukan tipografi puisinya yang cantik, tidak seperti kebanyakan perempuan penyair Indonesia. Ia memberi warna lain bagi peta perpuisian Indonesia. Pada bagian dua (“Pemuja Api”) puisi-puisi Inggit cenderung panjang. Mungkin karena Inggit sedang mencari bentuk pengucapan yang berbeda dari puisi-puisi sebelumnya. Atau puisi-puisi pendeknya sudah tidak memadai lagi untuk mengungkapkan ide-idenya yang mengandung unsur-unsur spiritualitas (secara lebih longgar) itu. Sementara pada bagian pertama (“Mantra Petani”) selin bahwa puisi-puisi pada bagian ini lebih pendek-pendek dibanding bagian kedua, tetapi lebih didorong oleh tema yang berbeda. Mungkin sama-sama sublim tetapi ia ungkapkan dengan cara yang berbeda. Menurutku banyak puisi yang sederhana pada bagian pertama. Sederhana dalam artian diksi-diksi dan pola ungkapnya. Mungkin tidak bermaksud membuat haiku, tapi beberapa puisi pada bagian pertama seperti haiku: sederhana dan langsung telak ke sasaran. Setidaknya larik-larik tipografi, pola ungkap, pemakaian majas, metafora, dan lain-lain terus berjalan seiring dengan dedikasinya yang tak putus-putus dalam sepuluh tahun terakhir, dedikasi yang telah menghantarkan Inggit sebagai salah satu penyair wanita yang dimiliki Lampung dan Indonesia. Sebuah proses mencipta yang oleh filsuf Alfred Whitehead sebut sebagai “proses untuk menjadi”. Dalam proses “meng-Ada”, manusia pada dasarnya selalu dalam proses untuk menjadi. 

Bagaimana Inggit menganyam kata menjadi manik-manik frasa dan frasa-frasa itu membangun sebuah puisi yang utuh-padu dan otentik. Inggit termasuk sedikit dari penyair Indonesia yang masih memperhatikan semantik dan gramatika. Apakah Anda lebih menyukai puisi-puisi pendek Inggit, merasakan ekstase tekstual ketika puisi hadir seperti sebuah tonjokan, lalu tiba-tiba merintih sedih. Atau seperti orang yang datang dengan banyak cerita tentang pengalaman pribadinya. 

Puisi yang baik barangkali adalah puisi yang mampu melahirkan ambiguitas, yang memungkinkan tafsir berlapis-lapis sebagaimana pendapat Nirwan Derwanto. Dengan rumpang antar-frasa, kita mendapatkan permainan antara sunyi dan bunyi, rupa dan kekosongan, kata-hati dan kata-kepala. Puisi menjadi sering menakjubkan—bahkan sering tak disadari penyairnya sendiri—karena ada rumpang sunyi, ada imaji yang tak terduga, ada estetika dionisian yang ditawarkan. Puisi-puisi yang berhasil membuat rasa takjub hadir dalam imajinasi kita. Sebagai manifestasi proses internalisasi penyair terhadap diri, realitas, dan sesuatu yang lain, yang mungkin akan kita sebut sebagai Tuhan. Buku ini menarik mungkin karena banyak rumpang sunyi di dalamnya, atau imajinasi, atau tema, atau majas-majasnya, atau pada benda-benda sekitar kita yang mendapat pemaknaan baru, yang lebih sublim oleh Inggit Putria Marga. Ketajaman dan kelenturan dalam melontarkan ide-idenya seputar eksistensi dan spiritualitas Inggit melalui jalan puisi bisa kita simak dalam puisi-puisinya kali ini. Buku Penyeret Babi masuk lima besar anugerah Khatulistiwa Literature Award 2010. Terakhir selamat membaca puisi-puisi Inggit. Silahkan mencari atau menemukan ketidakindahan yang sukar ditemukan.***

Alexander GB, lahir di Ulubelu, Tanggamus, Lampung, 25 September 1980. Tinggal di Bandar Lampung. Menulis prosa, esei, resensi buku dan ulasan pertunjukan teater beberapa di antaranya di muat di Lampung Post, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia dan lain-lain. Aktif di Komunitas Berkat Yakin Lampung.
sumber: riau post

Apresiasi: Menangkap Karakter Puisi Inggit

ada janji lain
bunga matahari
selain
setia pada matahari
pada tanah,
ia pelajari
hakekat rumah:
...


ITU penggalan puisi "Janji Bunga yang Seperti Matahari" karya penyair perempuan Lampung, Inggit Putria Marga yang dibacakannya sendiri pada Jumat malam (23-11) dalam gelaran Pesta Sastra bertajuk Bilik Jumpa Sastra (Bijusa) di Gedung PKM Unila mulai pukul 19.00.

Inggit mengatakan karya yang berhasil mengantarkannya meraih penghargaan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2005 sebagai penulis puisi terbaik tersebut, mendapatkan ilham penulisan dari komik yang dibacanya pada kelas 5 sekolah dasar. "Dulu saya membaca komik Jepang berjudul Sun Flower yang kisahnya melatarbelakangi saya membuat puisi 'Janji Bunga Seperti Matahari' tersebut."

Dia mengatakan bahwa seluruh kisah yang ada di buku komik tersebut, sangat dihafalnya. "Di komik tersebut dinyatakan bahwa bunga matahari itu akan selalu mengarah pada matahari. Saat matahari terbit, maka bunga akan mengarah ke sana, begitu saat matahari tinggi, dan juga terbenam. Namun selain mengikuti matahari, ia juga merunduk pada tanah. Sebab ketika matahari terbenam, maka bunga matahari akan mengarah pada tanah," kata Inggit.

Selain itu, perempuan yang pernah meraih juara pertama karya cipta Peksiminas tahun 2004 dan juara kedua karya cipta puisi Krakatau Award 2004 ini juga mengatakan proses kreatif dalam menulis puisi diawali sejak tahun 2000. "Ketika itu saya mengikuti workshop penulisan puisi di UKMBS yang menghadirkan empat pembicara; Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan, Ahmad Yulden Erwin, serta Ari Pahala Hutabarat. Di situlah saya mulai bersentuhan dengan puisi. Dan karya pertama saya langsung dimuat di HU Lampung Post."

Setelah itu, begitu banyak karya puisinya yang menghampar bebas di berbagai media massa baik nasional maupun daerah seperti Kompas, Media Indoensia, Koran Tempo, Horizon, Republika, dan Pikiran Rakyat. Ditambah lagi dengan termuatnya puisi karyanya dalam berbagai buku antologi puisi seperti Living Together (TUK, Jakarta), Gerimis Dalam Lain Versi (DKL), Konser Penyair Ujung Pulau (DKL), Gemilang Pesona Musim, Narasi dan Pesisir, dan Surat Putih 2 (Risalah Badai, Jakarta), dan 142 Penyair Menuju Bulan (Banjarmasin).

Inggit dalam Pandangan Penyair Lain


Penyair yang juga seorang jurnalis, Oyos Saroso, sebagai pembahas puisi karya Inggit, mengatakan Inggit bisa dikatakan sebagai penyair perempuan yang berkarakter kuat di Indonesia. "Pada akhir 90-an dan awal 2000-an, banyak pembuat puisi perempuan yang tidak kuat. Paling tercatat Dorothea, dan dia pun menurut saya mengembangkan puisi Sapardi. Dan Inggit termasuk yang kuat."

Menurut dia, awal berkaryanya, Inggit melahirkan puisi-puisi yang pendek-pendek saja. "Namun akhirnya entah ikut tren atau tidak, akhirnya mulai menulis puisi panjang. Tapi kelebihan Inggit, dia sama sekali tidak kedodoran ataupun menjadikan puisinya menjadi seperti prosais yang saat ini banyak bermunculan di media massa. Makanya saya melihat bahwa Inggit sudah memiliki pola tersendiri yang sangat Inggit," ujarnya.

Bahkan Oyos berani bahwa untuk penyair seangkatan Inggit, dia adalah yang terbaik. "Karena Inggit sudah memiliki pola ucap tersendiri, kuat, dan berdasarkan penilaian subjektifnya, saya sangat mudah untuk menikmati puisi karyanya. Menjadi pertanyaan bisakah dia memiliki napas panjang setelah menikah dan menyelesaikan urusan dosmetiknya?"

Pola ucap yang kuat tersebut sangat terlihat ketika Inggit membacakan karyanya "Mantra Petani".

berkecambahlah benih, berkecambahlah
agar jernih kelam pedih
agar putih hitam perih
berakarlah benih, berakarlah
agar terbenam maki dendam
agar tenggelam amuk kecam
berbatanglah benih, berbatanglah
agar teduh tetangis riuh
agar luruh berlapis peluh...


Selain itu juga, Oyos mengatakan bahwa karya Inggit memang layak dibicarakan. Karena selain tipografi puisinya yang cantik, juga sebagai penyair perempuan, dia telah memberikan warna lain bagi peta perpuisian Indonesia, meski pada awalnya masih samar terhalang pendahulunya namun kemudian sudah menancap jelas. Malahan dikemukakan dia, Inggit termasuk penyair Indonesia yang masih memperhatikan semantik dan gramatika

Sedangkan cerpenis M. Arman A.Z. mengemukakan bahwa Inggit merupakan pioner penyair perempuan di Lampung di kancah dunia sastra nasional. Karena dengan Inggit akhirnya sekarang ini mulai bermunculan penyair-penyair perempuan Lampung yang karyanya dimuat di media nasional dan mampu berbicara di pentas bertaraf nasional hingga internasional.

Bukan Hanya Rutinitas

Kegiatan mengapresiasi karya penyair Lampung ini memang bukanlah yang kali pertama digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Sebab sebelumnya telah tampil beberapa penyair Lampung seperti Udo Z. Karzi, Budi Hutasuhut, Isbedy Stiawan Z.S., Ansori Djausal, Edy samudra Kertagama, Syaiful Irba Tanpaka, Ari Pahala Hutabarat, Anton Kurniawan, Hendri Rosevelt, dan Lupita Lukman, serta beberapa penyair muda asal Metro yang karyanya juga dibedah.

Ketua Divisi Teater dan Sastra Kurusetra UKMBS Unila, Fitri Yani mengemukakan bahwa kegiatan yang menampilkan karya Inggit ini merupakan kegiatan yang kali kesepuluhnya digelar. Dan dipilihnya Inggit, menurut dia, dikarenakan karya-karya yang dihasilkan sudah sering menghiasi koran-koran lokal maupun nasional serta prestasi yang berhasil diraihnya mampu berbicara di tingkat nasional.

Sehingga menurut dia, kegiatan yang digelar secara kontinu setiap satu bulan sekali ini menjadi wadah para penulis sastra untuk memperbanyak pengetahuan tentang sastra. "Karena pada Bijusa ini, para penyair akan membacakan karyanya sekaligus membedah karya sastranya. Di samping tentunya forum ini sebagai wadah silaturahmi para penyair, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang berminat pada sastra," katanya lagi.

Sedangkan Ketua Komite Sastra DKL Ari Pahala Hutabarat mengatakan bahwa kegiatan tersebut wajib digalakkan karena sangat penting untuk perkembangan sastra ke depan. "Ini adalah bentuk tanggung jawab serta kepedulian dari Komite Sastra DKL bekerja sama dengan UKMBS Unila menggelar kegiatan ini. Harapannya ini bisa berkontribusi positif terhadap perkembangan sastra di Lampung."

Paling tidak nantinya diharapkan akan muncul Inggit-Inggit baru yang akan meramaikan dunia sastra daerah serta nasional yang memiliki karakter yang kuat. Sehingga akhirnya dunia kepenyairan Lampung akan semakin semarak dengan banyaknya bermunculan "bunga-bunga" baru nan harum. n TEGUH PRASETYO/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 2 Desember 2007

NGALOR NGIDUL TENTANG PUISI-PUISI INGGIT PUTRIA MARGA*

oleh oyos saroso Hn

I. Mungkin Dia Inggit
Ia hampir Inggit, ketika ia menulis: Adalah hujan/Yang mampu menyadur/Bahasa angin/Yang berdesir di titik air// Mungkin saja ia Inggit, ketika ia menulis angin di gorden turun naik/luka lidahku di lenganku/sisa cumbu yang pelik saat/adzan subuh menderik//. Sungguh, aku lupa, suatu saat dia pernah menulis sajak yang lebih berlemak seks untuk gadis seusianya. Apa judulnya? Aku lupa. Tapi aku pernah membacanya. Sempat hatiku tergerak untuk menulis tentang perempuan muda penyair yang tiba-tiba fasih berbicara soal seks itu. Tapi niat itu tertahan dan akhirnya lenyap begitu saja. 
Untunglah dia menjadi Inggit, lalu menulis tentang tumbuhan, air, hujan, batu, telur, ayam, laut, lumut,daun, ricik air,–dengan sajak-sajak pendek yang kuat. Ah, aku ingat ada puisinya yang berbicara tentang tunas dan tumbuhan-tumbuhan. Menurutku itu puisi yang bagus sekali. Puisi yang ditulis dengan kefasihan. Fasih, karena penulisnya tahu betul apa yang sedang ditulisnya. Tapi, lagi-lagi sayang, aku lupa di mana puisi itu kini kesingsal.

Tak salah, dialah Inggit, ketika ia menulis “Senja dan Sedikit Perkiraan Tentangnya”. Begini ia menulis: Dari jendela rumah berwarna tembaga/Kusaksikan tangga dermaga semua/kiranya akan segera turun senja/Di ujung/Sebuah kota.

Ya, tentu larik-larik itu dengan tipografi yang “baru”. Tipografi masa kini, kata setengah orang. Tipografi yang sangat berbeda dengan tipografi para penyair puritan.
Bukan. Bukan karena tipografi puisinya maka perempuan penyair yang mungkin bernama Inggit layak dibicarakan. Ia memang lain. Bukan sekadar karena tipografi puisinya yang cantik seperti tipografi puisi Ari Pahala. Ia tidak seperti kebanyakan perempuan penyair Indonesia. Ia memberi warna lain bagi peta perpuisian Indonesia, meski warna lain itu katanya terkadang tersamar atau terhalang bayang-bayang para pendahulunya juga.Katanya? Ya, kata setengah orang. Tapi aku tak percaya pada setengah orang itu. Nyatanya, Inggit (kini) berbeda dengan mereka yang disebut pendahulu itu, semisal Isbedy Stiawan Z.S., Iswadi Pratama, atau Ari Pahala. Dalam beberapa puisi Inggit memang terkesan suka berpanjang-panjang dengan larik, mengejar rima begitu tekun (ah, aku jadi ingat sebuah Sekte Anulad di Negeri Dongeng yang suka menulis tentang laut atau jembatan dengan kata-kata panjang mendayu-dayu, cuma untuk mengejar irama bunyi dan musikalitas).Di tulis 10 April 2001 (saya menduga inilah tahun-tahun awal kepenyairannya), ia, mungkin Inggit namanya, menulis puisi “Makna-Makna” begini”:


Berapa makna di matamu,
Memberi retak pada batu
Yang diam
Di sudut malam
Berapa isyarat di matamu
Memecahkan,
Usang cermin
Menata bayang-bayang
Berapa makna
Isyarat mengabdi
Dan bersiasat.


Puisi berjudul “Sebelum Aku PergI (ditulis tahun 2000)”, seperti ini:


Terlalu kencang angin bertiup
Hingga ranting-ranting kamboja
 Tak kuasa menahan dedaunan
Terpisah dari tangkainya
Aku masih di sini
Menghitung berapa nilai hujan
Membasahi ilalang
Hingga tak henti bergoyang
Melukis cahaya bulan
Yang jatuh berpendar
Kau tenang terlelap
Melupakan sajak yang kau buat
Menanti apa yang mesti kau jawab
Aku diam di sini
Kau tenang terlelap


Menurutku itu sebuah puisi yang sederhana. Namun, sebagai puisi ia berhasil. Tanpa mencangkih-canggihkan bahasa dan mengejar-ngejar rima, puisi itu sudah bicara begitu jelas.


II. Dia Memang Mau Menjadi Inggit


Aku tak tahu apa arti pendahulu bagi Inggit. Meski begitu aku sangat yakin, Inggit, seperti penyair lain di dunia mana pun, pernah membaca puisi-puisi para pendahulu. Dan mungkin, dalam satu-dua puisi, keterpengaruhan pendahulu itu ada. Setidaknya larik-larik tipografi, pola ungkap, pemakaian majas, metafora, dll, pastilah pernah Inggit baca dari para pendahulunya (lagi pula siapa yang tak pernah membaca para pendahulu?). Dua puisi di atas, yang bisa dikatakan sebagai dua puisi yang mewakili puisi-puisi awal kepenyairan Inggit, sangat berbeda dengan puisi-puisi Inggit yang ditulis lebih belakangan. Tapi, aku malas bicara soal itu. Lebih baik kini kita bicara soal proses, sebuah proses mencipta yang oleh filsuf Alfred Whitehead sebut sebagai “proses untuk menjadi”.

Dalam proses “meng-Ada”, manusia pada dasarnya selalu dalam proses untuk menjadi. Menjadi apa? Tak lain dan tak bukan menjadi Manusia Utuh. Manusia yang pada dirinya sendiri memiliki potensi-potensi, kelemahan-kelemahan; manusia yang ingin selalu mengagregasikan seluruh potensi dirinya menjadi bagian dirinya yang utuh. “Menjadi Islam yang kaffah”, kata mereka yang beragama Islam; “Menjadi empu hebat,” kata pembuat keris. Aku tak tahu bagaimana Inggit Putria Marga, mungkin itu nama panjangnya, berproses untuk menjadi penyair. Ya, ada baiknya kita perlu tahu bagaimana Inggit mengetam kata menjadi manik-manik frasa dan frasa-frasa itu membangun sebuah puisi yang utuh-padu.
Periksa puisi berikut:


dalam secangkir teh
sukma daun dan tubuh gula
berjumpa
laut tanpa prasangka
tak bisa lagi
mendua
(Puisi “Karena Air”)


Mungkin tidak bermaksud membuat haiku, tapi puisi tersebut menyaran seperti haiku: sederhana dan langsung telak ke sasaran. Perhatikan juga puisi berikut:


Ada yang menitik,
Sembunyi pada celah batu
Ada yang mengalir
Ada yang beku
(Puisi “Firman”)


Kali lain, Inggit menampakkan kenakalan tak terduga:


penyair : seandainya kamu penyair, apa yang kamu tulis?
temannya : ketidakindahan, sesuatu yang ada pada diriku sukar ditemukan
(Puisi “Penyair dan Temannya”).


Saya pribadi lebih menyukai puisi-puisi pendek Inggit. Saya bisa merasakan ekstase tekstual justru ketika puisi hadir di depan saya seperti orang menonjok, lalu tiba-tiba merintih sedih. Bukan seperti orang yang datang dengan tiba-tiba, lalu bercerita panjang tentang kisah pribadinya hingga berjam-jam. Apalagi kalau seseorang itu, mungkin juga bernama puisi, hendak membawaku larut dalam imajinasinya dengan kerajinan kata-katanya (persis seorang sales yang datang ke rumah untuk menawarkan barang) memaksaku untuk memahami pengalamannya menjadi pengalamanku juga.


Menurutku, Inggit termasuk sedikit dari penyair Indonesia yang masih memperhatikan semantik dan gramatika. Ah, soal ini—semantik dan gramatika– aku sering keqi sendiri kalau membaca sebuah puisi karya penyair Indonesia gramatikanya amburadul. Jadi penyair kok modal nekat, pikirku. Tapi begitulah dunia kepenyairan di Indonesia, banyak penghuninya yang notabenenya disebut penyair hanya numpang keren dengan status kepenyairannya. Penyair-penyair payah nan parah justru banyak menghiasi lembaran-lembaran media massa karena piawai bermain politik.


Oho, aku jadi ingat Nirwan Dewanto, si pongah yang tukang mencaci itu. Aku banyak beda pendapat dengan Nirwan dalam menilai puisi. Namun, aku setuju dengannya untuk satu hal: puisi yang baik adalah puisi yang mampu melahirkan ambiguitas, yang memungkinkan tafsir berlapis-lapis. Dengan rumpang antar-frasa, kata Nirwan (dan pasti Nirwan juga mengutip pendapat orang lain), kita mendapatkan permainan antara sunyi dan bunyi, rupa dan kekosongan, kata-hati dan kata-kepala. Ya, puisi menjadi sering menakjubkan—bahkan sering tak disadari penyairnya sendiri—karena ada rumpang sunyi, ada imaji yang tak terduga, ada estetika dionisian yang ditawarkan. Puisi-puisi yang berhasil, yang membuat rasa takjub, biasanya bukan sekadar puisi yang ditulis dengan semangat pengrajin (ciri khas seni appolonian). Puisi yang berhasil pada dasarnya adalah puisi yang ditulis secara jujur, sebagai manifestasi proses internalisasi penyairnya terhadap pengenalannya tentang realitas.
Cara ungkap, pola ucap, ataupun kredo tertentu yang dihasilkan seorang penyair akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, peresapan, dan penghayatan penyair terhadap entitas suku, warna lokal, kebijakan lokal maupun global yang dihayati penyairnya sebagai sebuah habitus (meminjam istilah Pierre Bourdieau).


III. Semoga Dia tetap Inggit


Saya tahu Inggit pernah menulis puisi panjang, naratif—seperti yang sedang menggejala dalam beberapa tahun belakangan ini. Bagus memang. Tapi, dalam puisi-puisi panjang itu, saya kok seperti melihat wajah Inggit yang lain. Ia mungkin terpaksa untuk tidak menjadi Inggit, sehingga harus menulis puisi yang panjang-panjang (padahal untuk mengungkapkan satu hal yang tak terlete-lete), mengejar-ngejar rima. Tidak. Ia justru menjadi Inggit Putria Marga jika bisa mengeksplorasi kekuatan yang ada pada dirinya dengan caranya sendiri, dengan bahasa ungkapnya sendiri.

Dalam penglihatan saya dari kejauhan, Inggit termasuk penyair yang sangat layak diperhitungkan dalam dua tahun terakhir. Saya belum menemukan ada penyair perempuan seusianya dari daerah di Indonesia yang sekuat dia. Ya, semoga ia kuat menjadi Inggit Putria Marga saja. Semoga—kalau ada—dia segera membunuh para pendahulunya…
 
Telukbetung, 23 November 2007

Inggit Putria Marga

Koran Jakarta, Minggu 14 Agustus 2011


Tooltip

"Dengan menulis puisi, diri saya seperti hidup"


Perempuan ini lebih memilih puisi karena sangat misterius. Menurut dia, puisi mengundang banyak persepsi, tafsir, lebih menantang, dan lebih menuntut kompleksitas.

Di kamar hotel 317 yang terletak di salah satu jantung Kota Palembang, beberapa waktu lalu, Inggit berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang proses kreatifnya. Dari bibirnya yang basah, terucap rangkaian cerita pada masa kecil hingga menjadi penyair papan atas.

"Sebenarnya saya suka dengan karya sastra sejak kecil. Saya hidup di lingkungan keluarga yang banyak menjadi guru bahasa Indonesia," ujar dara kelahiran Lampung, 25 Agustus 1981, ini.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia gemar membaca buku-buku sastra lama Indonesia, seperti karya Marah Rusli dan Sultan Takdir Alisabana. Buku-buku tersebut membuatnya mulai tertarik dengan sastra Indonesia, terlebih ketika menemukan cerita yang terkadang membuatnya terhanyut dalam aliran cerita. Sebuah cerita yang membawanya pada khayalan, selanjutnya membuatnya hadir dan hidup dalam cerita.

Tak mengherankan jika ia gandrung dengan pelajaran bahasa Indonesia, khususnya mengarang. Lewat pelajaran bahasa Indonesia itu pula ia menemukan pelajaran menganalisis puisi di bangku SMP dan SMA. "Sejak saat itulah saya mulai menyukai sastra," cetus dia.

Namun, saat melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi, pililihan kuliahnya di Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Walau begitu, ia tetap berusaha konsisten dengan kata hatinya untuk menggeluti dunia sastra. Karena itu, ia mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni pada divisi teater dan sastra.

Di sana ia mulai belajar dan berkenalan dengan penyair-penyair Lampung. "Memang saat itu saya masih kroco, namun sejak saat itu pulalah saya mulai kenal dengan penyair-penyair Lampung dan mulai mengikuti diskusi demi diskusi, workshop, dan mulai menulis serta kirim karya ke media," jelas perempuan yang pernah menyandang juara satu Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2004.

Intinya, Inggit mengenal sastra dan mempelajarinya sejak SD, SMP, SMA, akan tetapi memulai menulis puisi secara serius sejak kuliah. Waktu itu, kali pertama karyanya dimuat di media lokal Sumatra, seperti Lampung Post dan Sumatra Post.

Selama proses kreatif, ia lebih banyak menulis puisi dan sesekali menulis cerpen. Ia lebih memilih puisi karena baginya, puisi sangat misterius. Puisi mengundang banyak persepsi, tafsir, lebih menantang, dan lebih menuntut kompleksitas.

Pun tentang cara penyampaian dengan segala peraturan yang dimiliki puisi. Semacam kalimat yang tidak terlalu panjang, tidak terlalu singkat, tetapi masih memiliki kekayaan makna, persepsi, dan interpretasi.

Kesulitan
Meski demikian, sama dengan penulis pemula lainnya, ia juga kerap menemukan kesulitan demi kesulitan, terlebih ketika memulai menulis. Beberapa kesulitan itu ialah cara menulis puisi itu sendiri (konsep), memilih judul yang baik, memakai kata-kata (diksi) yang bisa mewakili isi pesan, tanda baca, serta awalan dan akhiran yang secara keseluruhannya juga harus dipelajari.

"Hal-hal itulah yang kemudian membuat saya nyaman dengan puisi. Yang pasti, ketika menulis puisi, saya menemukan sebagian dari diri saya dalam puisi tersebut, dan saya bahagia ketika menulisnya. Dengan menulis puisi, diri saya seperti hidup," tandasnya.

Selain menulis puisi, Inggit melakukan proses kreatif seni dan sastra lainnya. Sebagai contoh, semasa kuliah, ia sempat mentas teater, tur keliling Sumatra, juga sempat pentas di TIM (Taman Ismail Marzuki, Jakarta). Tapi ketika main teater, ia merasa ada sesuatu yang tidak terekspesikan, dan itu bisa terekspresikan ketika menulis puisi. Artinya, ia lebih mendapatkan kepuasan ketika menulis puisi ketimbang main teater.

Setelah 10 tahun berproses, mulai dari tahun 2000 hingga 2010, akhirnya Inggit membuat antologi puisi tunggal. Ia mengemas beragam tema sedemikian rupa dengan judul besar Penyeret Babi. Respons konkret yang ia dapatkan dari antologi puisi tersebut adalah sebuah penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2010.

Meski nama Inggit telah melambung hingga dipercaya mengisi acara-acara sastra ke pelbagai negara, ia tetap seorang perempuan yang rendah hati. Setidaknya, itu tecermin saat menyikapi dikotomi antara penyair senior dan junior yang terjadi sejak dulu.

Dikotomi tersebut juga pernah ia alami ketika baru menggauli puisi. Sekitar tahun 2005-2006, ia dan beberapa kawan sempat disebut sebagai penyair ilegal karena belum memiliki KTP kepenyairan (antologi puisi tunggal).

Karena itu, menurut dia, dikotomi sebaiknya diabaikan. Apalagi jika parameternya adalah umur. Sebab, meskipun seseorang telah berkarya bertahun-tahun, jika puisinya tidak bagus, secara artistik, estetik, kepenulisan, dan lainnya tidak memenuhi syarat, puisinya layak dikatakan tidak bagus.

Akan tetapi apabila ada penyair yang masih balita namun karyanya bagus, mau tidak mau penyair tersebut harus diakui, terlebih secara kekaryaan dan tidak boleh dijegal-jegal. "Artinya ketika kita ingin melihat seseorang (penyair), tentu kita juga harus melihat karyanya, bukan melihat background-nya," pungkas Inggit. frans ekodhanto



Mencari Kesempurnaan

Berharap karyanya tidak seperti gelembung sabun.

Inggit Putria Marga memilih jalan hidupnya sebagai penyair. "Jalan hidup saya adalah puisi. Saya berharap karya saya bisa lebih sempurna, bisa lebih tidak serupa dengan karya yang sebelumnya. Karena kalau tidak berubah, itu artinya sama saja kita tidak hidup," tandas dia.

Ia berharap karyanya tidak seperti gelembung sabun yang banyak, selanjutnya meledak, hanya menghadirkan kehampaan demi kehampaan saja. "Maka untuk mengisi kehampaan tersebut, tidak perlu buru-buru, harus ada proses yang intens, baik dengan diksi, tema, dan dengan hal-hal lainnya," tuturnya.

Selain sibuk menulis puisi, Inggit rajin menghadiri kegiatan-kegiatan sastra, baik yang diadakan di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa waktu lalu, misalnya, ia hadir dalam ajang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN V), Palembang. Tahun lalu, ia juga hadir sebagai pembaca puisi dalam sebuah festival di Pangkor, Malaysia, dalam acara Festival Puisi Antarbangsa.

Menurut dia, kegiatan semacam itu bisa mempererat silaturahim antar penyair. "Lebih dari itu, penyair bisa saling berbagi pengalaman tentang kondisi perpuisian di daerahnya serta proses kreatif para penyair itu sendiri," ujar dia.

Proses kreatif setiap orang tentu berbeda antara satu dan lainnya. Menurut dia, setiap orang punya peraturan dan tingkat kesempurnaan puisinya masing-masing. "Kalau saya sendiri, terlebih pada saat sekarang ini, ketika menulis puisi untuk menghasilkan satu karya saja membutuhkan waktu yang lama. Bahkan puisi saya yang mulai ditulis sejak Mei 2011, sampai dengan sekarang belum tunai," jelas Inggit.

Di sela-sela menekuni dunia sastra, lulusan Fakultas Pertanian Lampung ini punya hobi menjalani kehidupan nyata, yaitu bertani. Kegiatan ini memberikannya kesempatan menerapkan apa yang pernah dipelajarinya di bangku kuliah. frans ekodhanto

***
Inggit Putria Marga
Tempat, tanggal lahir : Lampung, 25 Agustus 1981
Karier : Menulis puisi
Hobi : Bertani
Pendidikan : S-1 Universitas Lampung

Prestasi:
5 Besar Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2010
100 Puisi Terbaik Indonesia-Pena Kencana 2010
60 Puisi Terbaik Indonesia 2009
Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2005.
Juara 1 Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2004.
Juara 2 Festival Krakatau 2004

Riwayat Festival:
Festival Puisi Antar Bangsa-Pulau Pangkor, Perak, Malaysia, 2010
Ubud Writers Festival, 2009
Festival Sastra Internasional di Utan Kayu, 2005
sumber koran jakarta,
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/68921

18.6.10

PENYAIR SEBAGAI SANG HERMES


Telaah atas Sajak-Sajak 'Penyeret Babi'

Oleh Iswadi Pratama**

Memasuki tahun 2010, Penyair asal Lampung Inggit Putria Marga menerbitkan antologi puisi bertajuk Penyeret Babi. Sajak-sajak dalam antologi ini dikelompokkan dalam 2 bagian: Pertama, Mantra Petani (30 sajak), dan bagian ke dua Pemuja Api (40 sajak). Pembagian ini saya kira lebih berdasarkan bentuk sajak daripada tematik atau periodisasi. Bagian pertama terdiri atas sajak-sajak yang relatif pendek dan bagian kedua lebih banyak menghimpun sajak dengan jejak prosa (ceritera) yang sangat kuat.

Karena terbatasnya ruang dan waktu untuk membincangkan seluruh sajak dalam Penyeret Babi maka telaah yang saya gunakan bersifat sangat sederhana dan lebih ditekankan untuk meraih kesatuan semantik (makna tekstual) di setiap sajak untuk kemudian saya pertautkan dengan makna-makna referensial sajak.

Kumpulan puisi Penyeret Babi dibuka dengan sajak Langit Begitu Sendiri: ada embun sisa hujan/di ranting patah// di daun yang basah/ada embun//sisa hujan. Tanda “embun” dalam sajak di atas bersifat indeksikal (kausalitas) jika dikaitkan dengan frasa “sisa hujan” yang merupakan tanda puitik. Sedangkan frasa “ranting patah” di larik ke-2 adalah tanda ikonis (similaritas) yang menjadi tempat (di tunjukan dengan penggunaan kata depan “di”) di mana embun menetes. Pengoperasian tanda-tanda yang setara diulangi pada bait ke dua dengan cara yang berbeda, yakni dengan mendahulukan frasa “daun yang basah” sebagai tanda ikonis untuk menghindari repetisi pelarikan sajak sekaligus merapatkan/mendekatkan rima “patah” dengan “basah” sehingga efek bunyi yang muncul lebih menegas seperti bunyi keluh “ah”. Jika pada bait pertama frasa “ada embun” dengan “sisa hujan” disatukan, maka pada bait ke dua, ke dua frase itu dipisah dengan penjarakan yang cukup renggang. Frasa “sisa hujan” dibiarkan terlantar sendiri untuk mencitrakan suatu pengasingan. Dengan demikian frasa terakhir ini menjadi celah bagi pembaca untuk merasakan ke-ber-sendirian.

Kata “sisa” secara harafiah bisa diartikan sebagai sesuatu yang ditinggalkan; tertinggal; ditelantarkan; terlantar. Ini berkaitan dengan embun sebagai indeks; sesuatu yang ke-ada-annya sebagai akibat dari hujan yang telah pergi menghilang; menjadi tidak ada. Sementara hujan merupakan indeks dari uap-uap air atau pokok hujan (awan/mega/mendung) yang jatuh ke bumi. Setelah hujan jatuh (lahir), maka gumpalan awan galibnya akan menghilang sehingga tampaklah langit (pada judul sajak) yang bersih—yang dalam sajak ini menjadi tanda simbolik (interpretatif) dengan penambahan metafor “begitu sendiri”. Langit bisa dimaknakan sebagai sesuatu yang sangat luas, tinggi, tak terbatas, kekal. Secara semantis beroposisi dengan hujan dan embun yang sementara, fana. Namun, langit yang kekal itu tampak sendiri setelah hujan lahir dan menghilang (tiada). Demikian pula embun tampak terlantar (sendiri) dan akan menjadi tiada menyusul perginya hujan. Dari deskripsi citraan visual yang amat ringkas pada sajak di atas, matriks yang bisa diperoleh dan menjadi inti puisi adalah sebuah “siklus air”; lahir (bermula), hidup (ada), dan mati (tiada), untuk kemudian lahir kembali dan seterusnya. Sebuah lingkaran tanpa akhir; samsara/reinkarnasi. Sementara langit, simbol keabadian itu dicitrakan sebagai entitas yang kesepian (sendiri) karena berada di luar siklus samsara (?).

Dengan cara yang persis, sajak ke dua, Firman, hadir di hadapan kita. Matriks sajak pun belum bergeser yakni, siklus air: ada yang menitik,/sembunyi pada celah batu//ada yang mengalir/ada yang beku. Jika pada sajak sebelumnya matriks sajak diverbalkan dalam kata “embun” yang menjadi model, maka pada sajak ke dua matriks sajak bisa kita lacak dari model berupa “yang menitik”, “yang mengalir”,”yang beku”. Semuanya menunjukan sifat-sifat air.

Sama seperti sajak pertama, wilayah tafsir menjadi meluas ketika seluruh tanda yang diproduksi di dalam teks ditautkan dengan judul yang memayunginya; “Firman”. Secara harafiah firman adalah perkataan Tuhan. Dengan ini, penyair membuat gagasan tentang apa yang kekal dan niscaya itu—yang pada sajak pertama tak terusik-- melebur (imanen) bukan dalam arti wujud (zat), melainkan kehendak, berupa Firman ke dalam sesuatu (tetesan air) yang menitik, membeku, mengalir. Sehingga dapat dikatakan, Tuhan (Langit) yang pada sajak pertama berada di Luar “siklus samsara air”, pada sajak ke dua justru menjadi bagian siklus tersebut via firman; perkataan; kehendak.

Juga dengan tak terlacaknya identitas/status “Sang Aku” dalam teks, kita bisa menganggap bahwa penyair memaklumkan kepada kita bahwa dirinya hanyalah “media” darimana “firman” itu menjelmakan diri. Ini mirip dengan peran Saman sebagai perantara berlangsungnya transformasi dunia ke-Ilahian (Langit) dengan dunia profan.

Dari uraian yang semenjana-nya saja itu, dapat dikatakan bahwa, “Si Aku” yang biasanya sangat dominan dalam sajak-sajak liris Indonesia yang sering berwajah sendu, telah ditransfigurasi sedemikian rupa oleh Inggit sehingga –dengan sajak-sajak yang mengisyaratkan laku “meditatif” ini-- penyair seolah adalah dia yang dikaruniai kemampuan untuk menangkap pesan dari ambang alam nyata—yakni kemampuan berupa kemahir-bahasaan dan kewaskitaan mengurai hikmah dan menangkap isyarat yang datang dari wilayah supra-personal. Meskipun di sana-sini tendensi seperti ini bisa juga kita rasakan sebagai akibat dari pergaulan referensial Inggit dengan berbagai literature Zen-Budhisme, Tao, litarutur sastra mandarin-klasik, tasawuf, dan lain-lain.

Hal yang sama dapat ditemukan dalam sajak berikut: dalam secangkir teh// sukma daun dan tubuh gula/berjumpa// larut tanpa prasangka// tak bisa lagi/mendua (Karena Air). Juga dalam sajak Batu di Dasar Kolam: tak melunak/saat air beriak// tak gemetar/walau rebah di dasar// bersabar// meski tak pernah melihat/matahari tenggelam dan bersinar.

Demikian pun dalam sajak Petani: di gagang cangkul/sang tangan sering singgah// di pundak isteri/sang kepala kerap rebah// di tanah/yang menerima keringat/atau ludah/tanpa amarah// sang jiwa/ingin berumah.

Ada semacam “kesemestaan diam” atau khamusy atau laku Wu Wei dalam sajak-sajak di atas yang dibangun dari imaji, bunyi, juga sunyi. Sesuatu yang galib muncul dalam sajak tradisional Jepang, Haiku atau sajak-sajak China klasik (mandarin) seperti yang ditulis Ch’ang Ch’un: buih-buih datang silih berganti/sungai tetap mengalir/tak terganggu. Puisi—dengan demikian-- menjadi tempat konfrontasi antara kata yang terbatas dan makna yang tak terbatas.

Pada sajak-sajak pendeknya yang terangkum dalam Penyeret Babi, Inggit seperti mengajak kita menemukan sebuah dunia dan kesemestaan, dalam sebutir embun, debu, awan, bintang, segelas teh, debur laut, sehelai daun, sayap burung, batu di dasar kolam, harum dupa, kuil, purnama, tanah, mantra…

Kedekatan kepada Alam, sekaligus merepresentasikan bagaimana dalam menulis sajak-sajaknya, penyair seperti menghadap-hadapkan diri pada kekuatan “Supra-Human”. Pada sesuatu yang niscaya, mutlak, abadi, serentak, dan tak terbantah.

Kuil di Tengah Kota

Dengan kata dan frase yang ringkas, jernih, bunyi-bunyi yang lirih, Inggit meredam semua keriuhan, gejolak, carut-marut, hingar-bingar, segala yang liar dan binal, yang hendak berontak dan meronta, ke dalam diam. Sajak-sajak itu, kadang seperti mengajak kita untuk memeriksa dan merasakan sesuatu yang mengelupas, terlepas, tercerai, sobek dari apa yang rigid, banal, dan final. Dan justru karena itu kita jadi tersentak dan terguncang bukan dengan sebuah ledakan, melainkan bisikan, sentuhan pada bahu yang perlahan. sekelompok perempuan/memilih selendang/sesosok anak/menunjuk bintang//sebaris bintang menghilang/sehelai selendang/melayang (Sajak Hujan di Pasar Malam).

Membaca sajak di atas, segera imajinasi saya diseret oleh efek bunyi dan rima dari komposisi kata-kata sebagai berikut: sekelompok—selendang, sesosok—bintang, sebaris bintang—menghilang, sehelai—selendang melayang. Pengulangan konsonan “s” menghadirkan efek desis yang lalu berujung pada bunyi “ang” yang menimbulkan efek gaung/gema secara auditif. Inilah yang saya maksud sesuatu yang lirih dan pelan, memberi kita semacam rasa perih yang bukan dibangun dari kata sifat, melainkan citraan auditif dan visual yang kuat. Dengan cara ini Penyair menautkan sajaknya pada realitas. Ia juga menyisakan sesuatu yang mengelupas dari realitas. Seperti sebaris bintang menghilang, sehelai selendang melayang. Dan rasa kehilangan yang “amat remeh” ini hanya mungkin bergema yakni ketika pasar malam yang riuh dan meriah itu dilihat dari sebuah “diam” yang jauh—melalui pen-jarakan atas realitas itu untuk kemudian dia jelmakan menjadi realitas “baru” atau dunia tersendiri.

Rasa kehilangan, kebersendiran kembali membantun pada sajak Melihat Awan di Jalan: taburan burung gereja/di bawah/awan kota//lingkaran semesta//yang berlarian, menenggelamkan jalan/yang berjalan, lebur di pelarian/di padam lampu/memenuhi tujuan mata sepatu//namun, tak berlaku/bagi yang menunggu//pergi dankembali/hanya sebagian komposisi//juga burung,/yang terbang dan mati//di kota ini. Burung gereja yang pada larik pertama sajak dicitrakan sebagai burung-burung yang masih hidup, bebas, merdeka, dan “bertaburan” (beterbangan) di bawah awan kota, memiliki derajat semantis yang disejajarkan dengan orang-orang yang berlarian memenuhi jalan-jalan kota, atau mereka yang tertinggal dan terlindas karena tak bergerak dengan cepat untuk mencapai tujuan: yang berlarian, menenggelamkan jalan/yang berjalan, lebur di pelarian/di padam lampu…

Situasi itu dikontraskan dengan dia yang menunggu. Menunggu berarti diam; tak terlibat meski berada di tengah arus kota. Sebuah diam yang acuh dan kukuh. Karena itu dia menjadi negasi dari kepanikan kota: namun, tak berlaku bagi yang menunggu.

Signifikasi “burung gereja” bukan semata-mata bertumpu pada kapasitas tanda ikonis (similaritas) dan indeksikal (kausalitas), tapi bisa berarti simbol (interpretatif) atas “kebebasan”, “kehidupan”. Sehingga burung yang terbang dan burung yang mati sekadar pelengkap komposisi atas orkes kota yang silang selimpat dan gaduh.

Sajak di atas tampak meretas lagi pada sajak lain: Penunggu : jendela selamat tinggal//menatap bahagia/ dan duka//pada pijar langit yang sama//sang pergi telah mengeras/di lautan//sang kembali telah bertapa/dalam hutan//sang diam/terpana pada nafas//naik turun/di dada harapan dan ingatan.

Tanda “penunggu”, “sang diam” (sajak Penunggu) dan “yang menunggu” (pada sajak Melihat Awan di Jalan) memiliki kesamaan status sebagai tanda ikonis. Demikian pula makna semantis “sang pergi” dan “sang kembali” (sajak Penunggu) dengan “pergi dan kembali” (sajak Melihat Awan di Jalan), sama-sama mengacu pada orang-orang yang pergi dan kembali.

Dia yang menunggu, yang semula acuh pada sajak Melihat Awan di Jalan akhirnya menjadi “sang diam” yang terambing antara “harapan dan ingatan”. Bertahan sekaligus terasing dari segala kecemasan kota dan berbagai lintasan kenangan atasnya. Akhirnya menggawat menjadi schizophrenia pada sajak Hatimu: rumah/sakit jiwa/hatiku:/pasiennya. Tegangan antara menerima hidup yang banal, nihil, sia-sia, dengan rasa percaya pada sesuatu yang bernilai, menjadi tujuan dan harapan; sesuatu yang abadi “di luar sana” masih terus berlangsung dalam diri “si aku”.

Sajauh ini, sajak-sajak yang telah saya geledah, bukan saja menunjukkan perjumpaan intelektual penyair dengan dunia, melainkan juga—dan lebih penting lagi--merefleksikan pengalaman: yakni keterlibatan eksistensial sang penyair dengan realitas yang tak terperi dalam sajak-sajaknya. Inilah yang membuat sajak dalam Penyeret Babi ini—meskipun sebagiannya mengindikasikan adanya acuan referensial yang sangat kuat dan tentulah dikerjakan di bawah “kontrol” keterampilan berbahasa, namun tak serta merta membuat teks-teks sajaknya sesak oleh konsep-konsep besar filsafat atau sekadar cantik belaka. Sajak-sajak dalam kumpulan ini lebih terasa sebagai desir yang pelan dan sabar, sebagai getar, juga kecamuk dan mabuk. Dengan itu semua, mereka, sajak-sajak itu, tampak seperti “mahluk hidup”.
Dan sebagai “mahluk hidup”, mereka memang tak harus selalu berada dalam sebuah tata, lurus, dan terukur. Bahkan mereka bisa lebih menyempal, membobol apa yang bernama tata itu. Sehingga tak selalu bisa dilacak dalam keketatan bahasa, semiotika. Mereka bisa menyuruk masuk ke lubuk bahasa untuk kemudian menjelma dalam bentuk yang lain, dalam sajak yang lain.

Setelah menutup lapisan-lapisan ingatannya tentang kota (Tanjungkarang?), lalu Inggit lebih banyak pergi ke kuil, vihara, merafal mantra, mengunjungi laut dan dermaga, goa di balik bukit, berziarah ke sebuah makam, dan lebih banyak melakukan ritual “membakar dupa” seperti hendak mencatat suara-suara yang tak terdengar, suara-suara yang bisu. Maka Sebagian besar sajak-sajak Inggit di bagian ke dua dalam kumpulan ini kian meneguhkan kecendrungannya menjadikan sajak semacam metamir (metaphysical mirror) yang memang telah dimulainya sejak Langit Begitu Sendiri. Yakni sajak-sajak yang mencoba menangkap apa yang tidak diucapkan, serpihan gema-gema yang terpantul dalam “patung-patung para dewa di vihara”, kuil, sepotong pesan tersembunyi di sebalik gerakan kertap sayap burung, dan aneka penampakan dan bayangan yang acap dirasakan seperti hantu.

Suara, pesan, isyarat yang tercermin dalam sajak Inggit yang semacam ini adalah: meluruhnya “sang aku” yang tak lagi menjadi subjek perkasa (res cogitans) yang punya otoritas mendefinisikan dan menjadi episentrum bagi segala ihwal. Penyair seperti memecah dirinya sendiri sebagai “Sang Aku” ke dalam setiap renik dan zarah; dalam butiran abu dupa, tetesan air, asap, api, debu, tanah.

Tentang Sang Hermes

Tanda-tanda, rangkaian makna tekstual, dan matriks-matriks yang juga sangat dominan dalam kumpulan Penyeret Babi ini adalah adanya ikonisitas “sang aku” (penyair) sebagai “Penafsir” (Hermes), misalnya pada sajak Penafsir: gunung berapi yang tak pernah bertanya mengapa/mengandung lahar dan batu/langit yang tak pernah menghitung berapa banyak memiliki biru/matahari yang tak pernah meneliti mengapa dikitari bumi/laut yang tak pernah bersuara meski jadi muara semua air...(bait 1).
aku tahu, tafsirku hanya jejak kaki di padang pasir./mudah tampak mudah pula terhapus angin yang/tak tahu tak bergerak./maka, wahai penyair dari para penyair/pencipta lahar yang mampu membakar/semua tafsir…bait 16).
di dasar muara semua air, aku berakhir, berhenti menafsir, membiarkan engkau menciptakan aku/sebagai satu dari sehimpun sajak yang kelak tak/sesiapa pun mampu memberi tafsir. (bait akhir; 17)

Sang Aku yang senantiasa terambing, pecah, tercabik, menjadi entitas yang sobek, pada sajak di atas menjadi Sang Hermes: Penafsir. Dalam Mitologi Yunani, Hermes adalah dia yang bersiaga dengan seluruh panca inderanya untuk menangkap pesan dari para dewa di Gunung Olympus, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipergunakan manusia. Dari bahasa para Dewa yang das ding un sich (diluar defenisi; batas-batas pemaknaan yang telah terkodifikasi) ke dalam bahasa manusia yang—bagaimanapun terikat oleh makna dan pengertian dalam kode-kode bahasa tertentu.

Namun, sebagai Penafsir, “Sang Aku” tahu bahwa tafsirnya (sajak-sajaknya) tak akan bisa lebih jauh dari sekadar bahasa yang akan jadi serupa jejak kaki di padang pasir sebelum akhirnya ia sendiri berakhir dan berharap lahir kembali menjadi satu dari sehimpun sajak yang tak kunjung usai ditafsir.

Demikianlah, antologi Penyeret Babi ini memerikan kepada kita; jika ilmu dan filsafat menjelmakan pengalaman menjadi pengetahuan, mengubah perasaan menjadi pikiran, nada menjadi notasi, rindu menjadi psikologi, intuisi menjadi proposisi dan argumentasi. Maka puisi membalikkan semuanya pada posisi yang lebih asali dan alami. Dalam puisi terjadi transposisi, pikiran menjadi pengalaman dan suasana, rindu menjadi getar dan perasaan, proposisi menjadi intuisi, dan intuisi menjadi visiun tentang warna langit, bau hutan dan tanah, benih yang tumbuh; dan argumentasi yang terususun rapi menjadi imaji yang liar berkejar-kejaran.

Bandar Lampung, 23-Maret 2009

* Esai dalam versi lebih pendek dimuat dalam Lembar Apresiasi, Lampung Post, Minggu, 2 Mei 2010

** Iswadi Pratama, Penyair